Yurisistables

Chapter 4 “Precious Moments”

Posted on: 09/11/2010

Cuaca pagi ini sangat sejuk. Yuri duduk termenung di dalam kelas. Ia melihat ke arah luar jendela.

Tepat pukul 8 pagi, dosen memasuki kelas.
Hari ini, mereka diberikan lecture tentang cara berakting yang baik.
Untuk drama kali ini, Yuri sekelompok dengan Tiffany, Yoona, Seohyun dan 6 temannya yang lain. Mereka akan menampilkan drama musical yang memadukan dance dengan akting. Namun, drama ini akan ditampilkan tahun depan, tepatnya bulan Januari 2011, sehingga Yuri tidak terlalu khawatir karena proposal dramanya belum selesai diketik.

Pelajaran hari ini pun selesai.
4th Generation mencari ruangan kosong di lantai 2. Mereka akan melakukan latihan dance hari ini. Choreographer dance mereka dibuat bersama-sama.
“…turn right and down…” Yuri memimpin dance tersebut.

Choi Minho berdiri di pintu ruangan, melihat mereka latihan.
Dari pantulan kaca, Yuri menyadari keberadaan Minho. Ia berbalik dan berjalan mendekati Minho.

“Annyeonghaseyo.” Keduanya menunduk 90 derajat dan saling menyapa.
“ Yuri sunbae ah…” Minho berhenti sejenak. “Apakah sunbae punya waktu malam ini?” lanjutnya.
Untuk kedua kalinya, Minho mengajak Yuri untuk keluar.
Yuri tersenyum dan tanpa berpikir panjang ia pun mengangguk.
Yuri tidak menolak ajakan Minho karena ia tidak ingin membuat Minho sedih.

Dalam hati, Minho berkata “YES!!”
“Kalau begitu, aku akan menjemput sunbae malam ini.. jam 7??” kata Minho dengan penuh semangat.
“Iya…” jawab Yuri dengan suara lembut.
“Di…??” tanya Minho lagi.
“Apartment di Gyeongsang street..” jawab Yuri.
“Deal!! Kalau begitu, saya permisi dulu, Yuri sunbae.. Mianheyo sudah mengganggu..” Minho menunduk 90 derajat.. “Annyeong..” Sambil terus tersenyum, ia pun pergi.

“Hueh!! Jam 7 malam kemana nih?? Cuit.. Cuit…” sindir Tiffany.
Ketiga temannya itu mencuri dengan perbincangan mereka.
“Haha…” Yuri menggeleng tanda tak tau.
Mereka pun melanjutkan latihan dance.

*****
Jam menunjukkan pukul 4 sore.
Keempat gadis tersebut pergi ke supermarket sebelum pulang ke apartment.
Mereka membeli buah-buahan.
Yuri membeli satu kotak buah strawberry. Selain itu, ia juga membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Setelah selesai membeli barang, mereka pun pulang.

Sesampainya di apartment, Yuri segera mempersiapkan dirinya, memilih baju yang akan digunakan malam nanti. Ia dibantu oleh ketiga temannya itu.
“Kalau yang ini?” tanya Seohyun sambil memperlihatkan sebuah gaun pesta.
Yuri menggeleng. “Terlalu over,” lanjutnya.
“Yang ini coba..!!” Yoona mengeluarkan sebuah dress dari lemari pakaian.
“Yang itu terlalu seksi..” Tiffany langsung mengomel.
Setelah 20 menit memilih baju, Yuri akhirnya memilih memakai pakaian simple, yaitu baju atasan berlapis cardigan dan celana panjang jeans.
Yuri memulai make-upnya. Tidak lupa ia juga memakai parfum.
Ia tampak simple, namun tetap saja cantik dan manis…!!!!!!

Tepat jam 7 malam…
“Fighting honey…!!!” Tiffany memberi semangat.
“Hahaha..” Yuri tertawa, seperti mau ikut ujian saja, pikirnya.
“Have fun ya, Yul…” kata Seohyun.
“Iyaa…”
Yuri menutup pintu apartment.
Ia menaiki lift dan turun ke lantai 1.
Cuaca malam itu sangat dingin.
Ia berdiri di depan apartment, menunggu jemputan Minho.

Tak lama kemudian… TIN TIN…
Terdengar suara klakson mobil. Terlihat pula cahaya silau dari lampu mobil Minho.
Minho segera turun dari mobilnya.
“Annyeonghaseyo..” keduanya saling menunduk 90 derajat.
Minho membukakan pintu mobil, mempersilakan Yuri untuk masuk.
Keduanya duduk dan tidak lupa memasang seatbelt.

Dalam perjalanan…
“ Kita mau kemana nih?” tanya Yuri.
“Yuri noona pengen dinner dimana??” tanya Minho.
“Mmm… Gimana kalau di warung Hoban.. Aku pengen makan 보쌈 (bossam)!! Hehehe..” jawab Yuri sambil tertawa kecil.
“Sipp lahh…” jawab Minho.

Sampailah di warung Hoban. Warung ini sangat terkenal dengan makanan khas mereka, Daeji Bossam.
Warung Hoban sangatlah ramai malam itu.
Yuri dan Minho pun memesan makanan.

15 menit kemudian, pesanan datang.
“Huhh.. panas..” Yuri menghembus tangannya yang terkena piring yang ternyata masih panas.
“Sini, biar saya ambilkan.” Minho pun mengambilkan sayur dan daging babi, kemudian meletakkannya ke mangkuk Yuri. “Hati-hati ya, masih panas,” lanjutnya.
“Iya..” jawab Yuri.
“Selamat makan..” kata Minho dan Yuri serentak.
Mereka pun makan dengan lahap dan sambil berbincang-bincang.
“Yuri noona sangat pandai menari ya.” kata Minho sambil memakan bossam-nya.
“Hehehe.. Enggak kok..!!” Yuri menggeleng kecil.
“Tapi aku suka banget kalau melihat Yuri noona menari..” kata Minho lagi.
“Minho dongsaeng juga pandai menari kan??” gantian Yuri yang menanyakan.
Minho hanya tersenyum.
“Hayoo… Pokoknya tahun depan, SHINee harus menang dalam Minhwa Dance Battle!! Okeh??” Yuri menumbuk lengan Minho dengan ringan. Keduanya pun tertawa.

Setelah makan, mereka jalan-jalan, menikmati udara sejuk dan segar malam itu.
Karena memakai cardigan yang lumayan tipis, Yuri sedikit menggigil kedinginan.
Minho melihat Yuri. Kemudian ia melepaskan jaketnya dan merangkulnya ke tubuh Yuri.
Yuri sedikit terkejut.
“Ehh, gak apa-apa kok, aku gak kedinginan,” Yuri segera melepaskan jaket Minho. Ia takut Minho-lah yang akan kedinginan karena ia hanya memakai T-shirt.
“Nih pakai..” Yuri mengembalikan jaket ke Minho. “Tar sakit loh!” lanjutnya.
Minho enggan memakainya. Kembali ia merangkul jaket tersebut ke tubuh Yuri.
Yuri menatap Minho, hendak mengomelinya dan mengembalikan jaket tersebut, tetapi tidak jadi karena… TIBA TIBA… salju turun dari atas langit.
“Huahh..!! Turun salju,” jerit Yuri. Ia mendekatkan kedua tangannya, hendak menampung salju tersebut.

Suasana di jalan malam itu sangat ramai, ada yang juga sedang jalan-jalan malam, ada yang sedang menunggu di depan lampu merah untuk menyeberangi zebra cross, ada yang sedang menunggu bus, dsb.

Sambil jalan-jalan, Yuri menggosok kedua tangannya dan menghembusnya. Ia lupa membawa sarung tangannya. Cuaca malam itu sungguh sejuk, apalagi turun salju.
Tiba-tiba Minho memegang tangan Yuri dan membantunya menggosok supaya lebih hangat.
Yuri melihat ke arah Minho, ia merasa bersalah karena memakai jaket Minho dan Minho kelihatan seperti juga sedang kedinginan.

Mereka berjalan sampai di depan lampu merah, hendak menyeberangi zebra cross. Mereka berhenti sejenak, karena lampu masih berwarna merah.
Tit..tit..tit..tit.. lampu berubah menjadi warna hijau. Mereka dan penyeberang lain melangkahkan kaki menyeberangi zebra cross tersebut.

Saat menyeberangi, Yuri berada di sebelah kanan, tiba-tiba dari arah kanan ada pengendara sepeda motor melaju dengan kecepatan kencang yang sepertinya sebentar lagi akan menabrak Yuri.
Minho yang berada di sebelah kiri Yuri melihat sepeda motor tersebut.
“NOONAAAA…” jeritnya. Secara spontan Minho menarik tangan kiri Yuri dan Yuri terhempas ke dalam pelukannya.
Yuri terkejut. Sepeda motor tersebut pun menerobos lampu merah dan pergi dengan kecepatan kencang.
Minho segera melepaskan Yuri dari pelukannya. Karena lampu hijau tinggal 8 detik, Minho menggenggam tangan kiri Yuri dan menariknya menyeberangi jalan.
Yuri tampak masih shock dengan kejadian tadi.

Sesampai di seberang jalan, Yuri menyadari Minho sedang menggenggam tangannya. Minho segera melepaskan tangan Yuri. Mereka berjalan bersama, namun keduanya terdiam, tidak berani melihat ke arah satu sama lain, keduanya menjadi malu.

Yuri merasa kedinginan. Ia meletakkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
Minho juga kedinginan. Yuri merasa bersalah lagi. Ia segera melepaskan jaket milik Minho tersebut, dengan cepat ia merangkulkannya ke tubuh Minho, kemudian mempercepat langkahnya hingga 1m di depan Minho. Yuri masih merasa malu.
Karena tidak tahan dinginnya, Yuri memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana jeansnya.

Minho yang juga sangat kedinginan pun segera memakai jaket yang dikembalikan Yuri. Ia memasukkan tangannya ke saku jaket dan menghampiri Yuri yang berjalan 1m di depannya.

Di depan sebuah toko, Yuri berhenti. Ia melihat dari luar jendela sebuah bola kristal salju yang terpajang di depan.
Minho mengikuti Yuri dan berdiri disampingnya.
Yuri tersenyum sambil melihat bola kristal salju tersebut. “Sangat lucu ya.”
“Noona mau membelinya??” tanya Minho dengan muka kebingungan.
Yuri hanya menggeleng. Ia memang ingin membeli bola kristal salju tersebut, tapi setelah dipikir-pikir, itu hanya sebuah pemborosan, makanya Yuri tidak jadi membelinya.

Mereka kembali berjalan-jalan.
Minho dan Yuri sepakat untuk pulang karena tidak tahan dengan cuaca yang sangat sejuk malam itu.
“Jalannya harus cepat supaya tidak kedinginan,” canda Minho.
“Benarkah??” tanya Yuri dengan mukanya yang polos.
Mereka pun mempercepat jalan mereka, berjalan selayaknya seekor bebek.
“Hahahahahahahaha…” keduanya tertawa melihat tingkah laku mereka yang kekanak-kanakkan itu. Canda tawa di antara mereka pun hidup kembali setelah beberapa menit terdiam akibat merasa malu.

Minho pun mengantar Yuri pulang ke apartmentnya.
Sesampainya..
Minho membukakan pintu mobil.

“Gomawo…,” kata Yuri sebelum masuk ke apartmentnya.
Minho tersenyum. “Good night Yuri noona..,” lanjutnya.
“Jaljayo..!” Yuri tersenyum.
Keduanya menunduk 90 derajat.
Yuri pun berjalan masuk ke apartmentnya.

Malam harinya, Minho tidak bisa tidur karena masih memikirkan kejadian yang terjadi di zebra cross tadi.
Begitu pula Yuri. Sambil menghiasi home di cyworldnya, Yuri meng-update status di twitter-nya. “Thank you for today, Minho dongsaeng~ ~ ^^”

*****
Sejak saat itu, Minho dan Yuri menjadi sangat dekat.
Setiap hari di kampus, mereka selalu kelihatan berdua, baik saat sedang berada di kantin maupun saat latihan dance.
Saat latihan dance terutama Latin Dance, mereka menjadi partner yang sangat dekat.
Sampai-sampai Tiffany, Seohyun, Yoona dan anggota grup SHINee mengira mereka sedang berpacaran.
Keduanya menjelaskan bahwa mereka tidak berpacaran melainkan dekat sebagai kakak dan adik.

Minho dan Yuri juga saling berbagi cerita. Selain itu mereka juga berbagi suka dan duka. Keduanya sangat akrab dan dekat karena memiliki hobi yang sama. Saat ngobrol juga sangat nyambung.
Minho sangat senang berada di dekat Yuri karena ia merasa Yuri seorang noona sangat baik, cantik, ramah, dan sangat nyaman berada di dekatnya.
Minho sadar bahwa ia sangat suka dengan Yuri.
Namun banyak hal yang menjadi alasan mengapa Minho takut untuk mengutarakannya.
Selain perbedaan umur 2 tahun, Minho juga tau bahwa Yuri menyukai Taeyang. Untuk itu ia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Ia sudah merasa sangat senang dan bersyukur karena dapat berada di sisi Yuri, menghiburnya dan menemaninya.

*****
Seminggu berlalu dengan cepat.
Tiba-lah hari Jumat, sehari sebelum dance battle menuju final dimulai.
Hari ini, Taeyang dan anggota Big Bang-nya telah kembali dari Jepang..!!! Mereka menaiki pesawat malam.
Kabar gembira datang dari mereka. Big Bang mendapat peringkat pertama dalam dance battle melawan grup-grup jago lainnya yang diadakan di Jepang. Yah, maklum saja karena Big Bang memang terkenal di mancanegara terutama seluruh Asia. WOW!!!

*****

Tags:

1 Response to "Chapter 4 “Precious Moments”"

hoho.
seru bgt part ini.
minyul makin dket.
ampe pelukan lagi.
asyik dah.^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • None
  • Ernawati Stevi Limbong: MANA LANJUTANNYA????
  • leecyntkyu: Kekekeke... Minho oppa udah berani ngajak keluar tuh :D Ya! Yuri eonni kau harus menerima abang ku ya :D :D daebak chingu!!
  • leecyntkyu: Wah ternyata udah ada lanjutannya hehehe... daebak chingu ^^ yyee udah ada Minho oppa! Yuri eonni persis kayak diposisi ku deh :D Minyul jjang Miny

Categories

Archives

%d bloggers like this: